Janji Kosong dan Luka Kolektif Warga
Janji Kosong dan Luka Kolektif Warga “Kami telah terlalu sering percaya… hanya untuk kembali dikhianati.” Setiap musim pemilu, wajah-wajah penuh janji kembali bermunculan. Mereka membawa slogan, program, bahkan tangisan palsu, seolah benar-benar mengerti apa yang kami butuhkan. Tapi setelah suara diberikan, yang tersisa hanyalah sunyi panjang—dan luka kolektif yang tak kunjung sembuh. Sebagai warga biasa, saya menyaksikan sendiri bagaimana janji pembangunan hanya berhenti di spanduk. Jalan yang rusak tetap menganga, bantuan tak pernah sampai, dan suara-suara kecil hanya jadi pelengkap formalitas. Sementara itu, di balik pagar gedung tinggi, mereka saling bersulang atas kemenangan yang kami bantu wujudkan. Rakyat bukan hanya angka. Kami adalah tubuh-tubuh yang lelah menunggu perubahan. Kami mengantre demi sembako, mengurus dokumen yang tak kunjung selesai, menyekolahkan anak dengan cemas. Tapi di mata sebagian pejabat, kami mungkin hanya statistik. Data survei. Bahan kam...