Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Janji Kosong dan Luka Kolektif Warga

  Janji Kosong dan Luka Kolektif Warga “Kami telah terlalu sering percaya… hanya untuk kembali dikhianati.” Setiap musim pemilu, wajah-wajah penuh janji kembali bermunculan. Mereka membawa slogan, program, bahkan tangisan palsu, seolah benar-benar mengerti apa yang kami butuhkan. Tapi setelah suara diberikan, yang tersisa hanyalah sunyi panjang—dan luka kolektif yang tak kunjung sembuh. Sebagai warga biasa, saya menyaksikan sendiri bagaimana janji pembangunan hanya berhenti di spanduk. Jalan yang rusak tetap menganga, bantuan tak pernah sampai, dan suara-suara kecil hanya jadi pelengkap formalitas. Sementara itu, di balik pagar gedung tinggi, mereka saling bersulang atas kemenangan yang kami bantu wujudkan. Rakyat bukan hanya angka. Kami adalah tubuh-tubuh yang lelah menunggu perubahan. Kami mengantre demi sembako, mengurus dokumen yang tak kunjung selesai, menyekolahkan anak dengan cemas. Tapi di mata sebagian pejabat, kami mungkin hanya statistik. Data survei. Bahan kam...

Ketika Janji Tinggal Janji, dan Rakyat Kian Mati Rasa

  Ketika Janji Tinggal Janji, dan Rakyat Kian Mati Rasa Ada masa ketika saya begitu bersemangat menyalurkan suara. Memilih dengan penuh harap, mencatat nama-nama yang katanya akan membawa perubahan. Tapi kini, saya hanya bisa tertawa pahit saat melihat baliho-baliho kembali berdiri tegak, wajah-wajah lama tersenyum penuh janji yang tak pernah ditepati. Apakah saya satu-satunya yang mulai merasa muak? Entahlah. Tapi saya yakin, banyak di antara kita yang mulai bersikap sama: diam , cuek , dan tidak peduli lagi . Bukan karena kita tidak mencintai negeri ini. Tapi karena cinta itu telah terlalu sering dikhianati. Apatisme yang Tumbuh dari Luka Apatisme rakyat bukan muncul dari ruang hampa. Ia tumbuh perlahan, dari janji-janji manis yang dikhianati, dari kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir, dari sidang-sidang yang disiarkan tapi tak pernah menyentuh nurani. Saya pernah berdiri dalam antrean panjang, di tengah terik, demi memberi suara pada calon yang...