Ketika Janji Tinggal Janji, dan Rakyat Kian Mati Rasa

 

Ketika Janji Tinggal Janji, dan Rakyat Kian Mati Rasa

Ada masa ketika saya begitu bersemangat menyalurkan suara. Memilih dengan penuh harap, mencatat nama-nama yang katanya akan membawa perubahan. Tapi kini, saya hanya bisa tertawa pahit saat melihat baliho-baliho kembali berdiri tegak, wajah-wajah lama tersenyum penuh janji yang tak pernah ditepati.

Apakah saya satu-satunya yang mulai merasa muak? Entahlah. Tapi saya yakin, banyak di antara kita yang mulai bersikap sama: diam, cuek, dan tidak peduli lagi.

Bukan karena kita tidak mencintai negeri ini. Tapi karena cinta itu telah terlalu sering dikhianati.

Apatisme yang Tumbuh dari Luka

Apatisme rakyat bukan muncul dari ruang hampa. Ia tumbuh perlahan, dari janji-janji manis yang dikhianati, dari kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir, dari sidang-sidang yang disiarkan tapi tak pernah menyentuh nurani.

Saya pernah berdiri dalam antrean panjang, di tengah terik, demi memberi suara pada calon yang katanya "dari rakyat, untuk rakyat". Tapi berapa lama setelah duduk di kursi empuk, ia kembali seperti yang lain — lupa tanah yang diinjaknya, lupa tangan-tangan kasar yang dulu menepuk pundaknya penuh harap.

Setiap lima tahun, kita disapa. Tapi di tahun-tahun lainnya, kita dilupakan.

Ketidakadilan yang Terlihat Tapi Tak Tersentuh

Saya menyaksikan sendiri bagaimana bantuan sosial yang seharusnya adil dibagi, malah hanya berputar-putar di lingkaran keluarga dan kenalan. Bagaimana izin usaha bisa didapat mereka yang punya "jalur belakang", sementara yang benar-benar butuh hanya bisa gigit jari.

Di pelosok, guru honorer dibayar tak sepadan, sementara pejabat berlibur ke luar negeri untuk "studi banding".

Dan semua ini k

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Runtuhan Cahaya

Hidup Yang Dipertaruhkan

Hidup Dalam Ruang Hampa