Janji Kosong dan Luka Kolektif Warga
Janji Kosong dan Luka Kolektif Warga
“Kami telah terlalu sering percaya… hanya untuk kembali dikhianati.”
Setiap musim pemilu, wajah-wajah penuh janji kembali bermunculan. Mereka membawa slogan, program, bahkan tangisan palsu, seolah benar-benar mengerti apa yang kami butuhkan. Tapi setelah suara diberikan, yang tersisa hanyalah sunyi panjang—dan luka kolektif yang tak kunjung sembuh.
Sebagai warga biasa, saya menyaksikan sendiri bagaimana janji pembangunan hanya berhenti di spanduk. Jalan yang rusak tetap menganga, bantuan tak pernah sampai, dan suara-suara kecil hanya jadi pelengkap formalitas. Sementara itu, di balik pagar gedung tinggi, mereka saling bersulang atas kemenangan yang kami bantu wujudkan.
Rakyat bukan hanya angka.
Kami adalah tubuh-tubuh yang lelah menunggu perubahan. Kami mengantre demi sembako, mengurus dokumen yang tak kunjung selesai, menyekolahkan anak dengan cemas. Tapi di mata sebagian pejabat, kami mungkin hanya statistik. Data survei. Bahan kampanye.
Ketika janji tak ditepati, yang terluka bukan hanya satu orang—tapi seluruh warga yang berharap. Dan luka itu menular: jadi apatisme. Jadi sikap “terserah.” Jadi kebiasaan untuk tidak percaya lagi pada siapa pun.
Namun dalam diam, kami tetap mencari harapan. Mungkin bukan dari tokoh besar atau partai gemerlap, tapi dari gerakan kecil: anak muda yang sadar, warga yang saling bantu, suara-suara yang tak lelah menyuarakan kebenaran, meski tak diliput media nasional.
Kami tahu perubahan butuh waktu. Tapi kami juga tahu, diam hanya akan memperpanjang penderitaan. Maka tulisan ini hadir sebagai pengingat—bahwa di balik janji kosong, masih ada luka yang nyata. Dan di balik luka itu, masih ada daya hidup untuk bangkit dan melawan.
Negara ini tidak akan berubah hanya karena pidato. Tapi ia akan tumbuh jika warganya kembali peduli.
— Xafscell
Komentar
Posting Komentar