Sepi Yang Tidak Pernah Pergi
Sepi yang Tidak Pernah Pergi
oleh Xafscell — Seri: Bangkit dari Kekosongan
“Sepi bukan musuh. Ia hanya terlalu jujur saat yang lain memilih diam.”
Ada yang tak pernah benar-benar hilang—meski waktu terus berjalan.
Bukan luka. Bukan amarah. Tapi sepi.
Sepi itu bukan hanya sunyi. Ia hadir bahkan di tengah keramaian. Menyusup diam-diam saat tawa sedang terdengar. Menyelinap ke dada saat semua tampak baik-baik saja.
Aku sering bertanya,
mengapa sepi begitu setia?
Mungkin karena ia tahu: aku terlalu sering menyimpan semuanya sendiri.
Terlalu sering tersenyum saat ingin menangis.
Terlalu sering berkata “nggak apa-apa” saat hati retak tanpa suara.
Sepi yang Tidak Bisa Diusir
Dulu aku mencoba mengusirnya—dengan suara, dengan hiburan, dengan orang-orang.
Tapi sepi selalu kembali. Lebih sunyi, lebih dalam.
Akhirnya aku berhenti melawan.
Aku belajar duduk bersamanya.
Mendengarkannya.
Menanyakan padanya:
“Sepi, apa yang ingin kamu katakan padaku hari ini?”
Dan perlahan, aku mulai mengenal diriku sendiri—tanpa topeng, tanpa pelarian.
Sepi mengajarkanku untuk jujur.
Bahwa aku rapuh. Tapi aku ada.
Sepi Tidak Selalu Harus Disembuhkan
Ada masa di mana aku ingin cepat sembuh, ingin cepat kembali ‘normal’.
Tapi ternyata, penyembuhan bukan soal kecepatan.
Kadang, ia hanya tentang hadir.
Hadir untuk diri sendiri.
Hadir dalam kekosongan, dan mengakuinya sebagai bagian dari hidup.
Untuk Kamu yang Dikenal Kuat
Jika kamu membaca ini dan merasa sendiri,
ketahuilah: sepi itu bukan kutukan.
Ia adalah ruang—yang mungkin sedang menunggu untuk kamu isi dengan kejujuranmu sendiri.
Jangan buru-buru pulih.
Jangan merasa salah hanya karena kamu diam lebih lama dari orang lain.
Sepi itu tidak akan pernah benar-benar pergi.
Tapi ia juga tak akan membunuhmu—selama kamu mau bersahabat dengannya.
Terima kasih sudah bertahan hari ini.
Dunia masih butuh caramu melihat, merasa, dan menyembuhkan.
— Xafscell
Komentar
Posting Komentar