Runtuhan Cahaya
Reruntuhan Cahaya
Oleh Xafscell
Di tengah malam yang tak lagi menyimpan bintang,
aku duduk bersama bayangan yang tak mau pulang.
Harapan—dulu menari di ujung mataku,
kini rebah tanpa nyawa, di sudut waktu.
Langit tak lagi menjanjikan fajar,
dan angin hanya membawa kabar yang dingin.
Aku mencari secercah,
namun cahaya seperti tak lagi ingin ditemukan.
Apa arti langkah jika arah pun hilang?
Apa guna doa jika langit menutup telinga?
Di balik tawa palsu dan pelukan yang dingin,
aku sembunyikan luka, aku peluk kehilangan.
Tapi mungkin,
di reruntuhan cahaya ini,
masih tersisa satu detik untuk percaya—
meski bukan hari ini.
Refleksi
Kadang, hidup tidak perlu badai besar untuk meruntuhkan segalanya.
Cukup satu pagi yang hampa.
Cukup satu kabar yang tak datang.
Cukup satu harapan kecil yang diam-diam mati tanpa pamit.
Aku pernah berdiri di tempat itu—
di antara reruntuhan cahaya yang dulu kupuja sebagai masa depan.
Tanganku menggenggam debu mimpi yang tak sempat tumbuh.
Langkahku menyusuri lorong-lorong sunyi, mencari makna dari kehilangan yang tak bisa kusebutkan.
Bukan karena tak ingin bertahan.
Tapi karena tak tahu lagi, untuk apa.
Mereka bilang, harapan selalu ada.
Tapi mereka tidak melihat bagaimana cahaya itu padam,
perlahan, diam-diam, tanpa dentang,
seperti lilin yang kehabisan nafas di sudut ruang yang dilupakan.
Namun anehnya, tubuh ini tetap bernapas.
Hati ini, walau retak, masih berdetak.
Dan itu cukup… untuk hari ini.
Mungkin bukan tentang menemukan kembali cahaya.
Tapi tentang belajar berjalan dalam gelap.
Menerima bahwa tak semua luka harus disembuhkan hari ini.
Bahwa tidak apa-apa jika harapan hanya sebesar sebutir pasir di telapak tangan—
asal tidak dibuang.
Di antara reruntuhan ini, aku membangun ulang diriku.
Tak sekuat dulu,
tapi mungkin… lebih jujur.
Lebih tahu bahwa hidup tak selalu soal terang.
Kadang, justru di gelap yang sunyi, aku mengenal diriku sendiri.
Ditulis dengan cahaya yang tersisa — Xafscell
Komentar
Posting Komentar