Saat Dunia tak ada lagi warna

 

Saat Dunia Tak Ada Lagi Warna

Oleh Xafscell

Ada hari-hari ketika dunia terasa seperti kanvas yang kehilangan pigmen. Langit tetap membentang, tapi birunya memudar. Pohon masih berdiri, tapi hijaunya tidak lagi menghibur. Suara-suara kehidupan tetap terdengar, namun seperti gema dari ruang hampa.

Hari-hari itu datang tanpa aba-aba. Kadang karena kehilangan, kadang karena lelah, kadang tanpa sebab yang bisa dijelaskan. Yang terasa hanya kosong. Dan sepi.

Aku berjalan di antara keramaian, tapi tak benar-benar hadir. Dunia di sekitarku bergerak, tapi aku diam di dalam. Seperti berada dalam film bisu dengan warna hitam-putih yang terlalu kontras. Terlalu gelap untuk disebut harapan, terlalu terang untuk disebut putus asa.

Aku mencoba menulis, berharap huruf-huruf bisa menjadi warna. Tapi tak satu pun kalimat terasa utuh. Semua berhenti di tengah. Seperti hidup yang sedang bingung mencari arah.

Mereka bilang, dunia akan kembali berwarna jika kita cukup sabar. Tapi bagaimana jika sabar pun terasa seperti beban? Bagaimana jika yang hilang bukan hanya semangat, tapi juga rasa?

Aku belajar menerima bahwa tidak setiap hari harus penuh cahaya. Ada kalanya kita harus duduk bersama gelap, memeluknya, mendengarkan apa yang ia bisikkan. Kadang, kesedihan datang bukan untuk merusak, tapi untuk menyadarkan: bahwa kita masih hidup. Bahwa perasaan ini, meski kelabu, adalah bagian dari manusia.

Hari itu, aku menemukan setitik warna — bukan dari luar, tapi dari dalam. Dari keberanian untuk menangis, dari kejujuran untuk mengakui bahwa aku tidak baik-baik saja. Dari secangkir kopi hangat yang kupeluk dengan dua tangan gemetar. Dari senyum kecil orang asing di halte.

Ternyata dunia tidak benar-benar kehilangan warna. Ia hanya menunggu aku membuka mata — bukan yang di wajah, tapi yang di hati.

Dan hari itu, meski perlahan, dunia mulai memiliki warna lagi. Bukan merah mencolok atau kuning menyala, tapi abu-abu hangat yang jujur. Warna yang tidak memaksa untuk bahagia, tapi cukup untuk bertahan.

Michael Elkan