Mencari Diri di Antara Riuh Dunia
Mencari Diri di Antara Riuh Dunia
“Aku mencari diriku, tapi yang kutemui hanya gema dunia.”
Di zaman ini, suara-suara datang dari segala arah. Media sosial, target hidup, ekspektasi keluarga, nasihat motivator, tuntutan ekonomi—semua berbicara serentak, hingga tak ada lagi ruang untuk mendengar suara hati sendiri.
Aku pernah merasa telah kehilangan diriku sendiri. Saat berjalan di keramaian, aku merasa hampa. Saat tertawa bersama orang lain, aku merasa tak dikenal. Bukan karena mereka jahat—tapi karena aku tak lagi mengerti siapa aku sebenarnya.
Dunia terlalu bising.
Dan dalam kebisingan itu, aku merasa kecil. Kehidupan terasa seperti perlombaan panjang: siapa yang paling produktif, paling bahagia, paling berhasil. Aku pun ikut berlari, padahal kakiku luka.
Lalu aku berhenti. Bukan karena menyerah—tapi karena aku ingin mendengar lagi detak hatiku sendiri. Aku mulai membaca ulang catatan lama, menuliskan kegelisahan, mengamati langit pagi, duduk dalam diam. Di sanalah, pelan-pelan, aku mulai melihat diriku yang hilang itu.
Bukan versi terbaik. Bukan yang sempurna. Tapi versi yang jujur. Yang tidak sibuk menyenangkan semua orang. Yang tidak ingin tampil luar biasa. Versi yang cukup.
Mencari diri bukanlah tugas sekali jalan.
Ia adalah perjalanan seumur hidup. Kadang kita tersesat lagi. Kadang kita menyamar. Tapi selama kita tidak kehilangan keberanian untuk mendengarkan hati sendiri, kita akan selalu punya tempat untuk pulang: diri kita sendiri.
Di tengah riuh dunia, heningmu adalah perlawanan. Dan mengenal dirimu sendiri—itulah revolusi yang paling dalam.
— Xafscell
Komentar
Posting Komentar