Di Antara Rasa dan Realita
Di Antara Rasa dan Realita
oleh Xafscell — Seri: Bangkit dari Kekosongan
“Ada jarak yang tak terlihat antara apa yang kita rasakan dan apa yang harus kita tunjukkan.”
Terkadang, dunia meminta kita untuk kuat—bahkan saat hati sedang berantakan.
Kita belajar tersenyum saat luka masih basah.
Kita belajar berkata “baik-baik saja” saat isi kepala penuh jeritan sunyi.
Di luar, hidup harus terus berjalan.
Tapi di dalam, ada badai yang tak pernah selesai.
Ketika Perasaan Tidak Punya Tempat
Ada rasa yang ingin diakui—tapi tidak semua ruang aman untuk berkata jujur.
Ketika kita menunjukkan lemah, orang bisa menjauh.
Ketika kita terlalu jujur, dunia bisa menghakimi.
Maka kita simpan semuanya.
Kita tekan, kita bungkam.
Sampai akhirnya, kita sendiri pun lupa bagaimana rasanya menjadi jujur kepada diri sendiri.
Antara Menjalani dan Menyangkal
Realita menuntut.
Tagihan tetap datang. Pekerjaan tetap harus selesai. Keluarga tetap butuh peran kita.
Tapi di balik itu semua, ada rasa yang menggantung:
lelah, kecewa, rindu, kehilangan arah.
Di antara rasa dan realita, kita belajar menjadi dua orang sekaligus:
seseorang yang bertahan di luar, dan seseorang yang hampir runtuh di dalam.
Dan kadang, konflik itu melelahkan lebih dari masalah itu sendiri.
Aku Belajar Mendengarkan Lagi
Sampai suatu hari, aku berhenti mencari solusi.
Aku hanya duduk dan bertanya pada diriku:
“Apa yang sebenarnya kamu rasakan?”
Ternyata jawabannya banyak.
Aku marah. Aku sedih. Aku iri. Aku takut.
Tapi yang paling kuat: aku hanya ingin dipahami—tanpa harus menjelaskan semuanya.
Untuk Kamu yang Terjebak di Tengah
Kalau kamu merasa sedang berjalan di atas dua dunia—
satu yang kamu rasakan, satu yang kamu jalani—
ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian.
Tidak salah jika kamu merasa lelah.
Tidak salah jika kamu ingin menangis tanpa alasan.
Kadang, yang kita butuhkan bukan solusi…
hanya ruang untuk mengakui:
“Aku tidak baik-baik saja. Tapi aku masih di sini.”
Dan itu sudah cukup.
— Xafscell
Komentar
Posting Komentar